Senin, Maret 16, 2026
spot_img

IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Pasar Pantau Kebijakan Transparansi OJK

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (3/2). IHSG turun 42,25 poin atau 0,53 persen ke level 7.880,47 seiring pelaku pasar yang masih mencermati komitmen penguatan transparansi di pasar modal Indonesia.

Sementara itu, indeks LQ45 justru bergerak positif dengan kenaikan 2,89 poin atau 0,36 persen ke posisi 809,13.

- Advertisement -

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelemahan IHSG pada awal sesi masih bersifat terbatas. Secara teknikal, IHSG berada pada area support–resistance 7.790–8.270.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.790-8.270. Potensi naik mulai terlihat, hati-hati tergocek,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico.

- Advertisement -

Kebijakan Transparansi OJK Berpotensi Dorong Kepercayaan Investor Global

Nico menilai langkah terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) berpotensi memberi dampak positif bagi pasar modal. Kebijakan ini dinilai dapat memperkuat kredibilitas dan meningkatkan kepercayaan investor internasional.

Di antara kebijakan yang disorot adalah penurunan ambang batas pelaporan kepemilikan saham menjadi di atas 1 persen serta kewajiban pengungkapan beneficial owner. Menurut Nico, kebijakan tersebut dapat mengurangi kekhawatiran terkait kepemilikan tersembunyi, isu yang selama ini menjadi perhatian Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Selain itu, peningkatan klasifikasi investor memberi visibilitas yang lebih baik atas struktur pasar, sehingga mendukung penilaian risiko dan likuiditas yang lebih akurat,” tambahnya.

Nico juga menyoroti rencana kenaikan batas free float minimum menjadi 15 persen secara bertahap, yang diyakini akan memperdalam likuiditas pasar meski berpotensi menimbulkan penyesuaian pada jangka pendek bagi sejumlah emiten.

- Advertisement -

Jika implementasi kebijakan berjalan konsisten, ia meyakini peluang pemulihan persepsi MSCI terhadap Indonesia akan semakin besar, sehingga dapat menarik arus dana asing dalam jangka menengah hingga panjang.

“Saat ini kita membutuhkan kebijakan jangka pendek yang mampu menghentikan tekanan jual masif,” ujarnya.

Sentimen Global: Data Manufaktur AS Menguat, Eropa Tunggu Keputusan Bank Sentral

Dari mancanegara, pelaku pasar turut mencermati data ISM Manufacturing Amerika Serikat yang naik dari 47,9 menjadi 52,6, pertumbuhan tercepat sejak 2022. Kenaikan ini didorong oleh pesanan baru dan produksi yang kuat.

Sementara itu, Eropa menanti kebijakan moneter terbaru dari European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) yang dijadwalkan dirilis pekan ini.

Bursa Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya kompak menguat. Indeks Dow Jones naik 1,05 persen, S&P 500 menguat 0,54 persen, dan Nasdaq Composite ditutup naik 0,56 persen.

Di Asia, bursa regional pagi ini bergerak positif. Indeks Nikkei melonjak 3,12 persen, Shanghai naik 0,45 persen, Hang Seng menguat 0,16 persen, dan Strait Times meningkat 0,91 persen.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img