InfoEkonomi.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah mengalami deflasi selama dua berturut-turut yakni pada Mei dan Juni 2024. Kelompok penyumbang deflasi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi 0,29 persen dan andil 0,08 persen.
Deflasi secara bulanan (mtm) itu pertama terjadi pada Mei. Saat itu, deflasi tercatat sebesar 0,03 persen (mtm). Sedangkan, inflasi tahunan mencapai 2,84 persen. Pun, indeks harga konsumen (IHK) secara bulanan turun dari 106,40 menjadi 106,37. Sementara, IHK secara tahunan naik dari 103,43 menjadi 106,37.
Sementara itu, deflasi Juni tercatat 0,08 persen (mtm). Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,49 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,14 persen.
Lebih rinci, di tingkat komoditas, penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah beras dengan andil 0,15 persen, daging ayam ras dan ikan segar 0,03 persen, serta tomat dan cabai rawit dengan andil masing-masing 0,02 persen.
Lantas apa itu deflasi? Apakah berbahaya bagi perekonomian Indonesia? Yuk temukan jawabannya dalam artikel ini.
Deflasi adalah kebalikan dari inflasi, yakni penurunan umum harga barang dan jasa dalam suatu ekonomi. Deflasi terjadi ketika permintaan barang turun sedangkan produksi meningkat. Ini berbeda dengan inflasi, di mana harga barang dan jasa meningkat dari waktu ke waktu.
Permintaan turun disebabkan pelambatan kegiatan ekonomi yang berdampak ke penghasilan yang turun sehingga jumlah uang beredar pun menjadi berkurang.
Penyebab Deflasi
Deflasi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Penurunan Permintaan Agregat: Ketika permintaan barang dan jasa menurun secara signifikan, harga cenderung turun.
- Peningkatan Produktivitas: Inovasi teknologi atau efisiensi produksi yang lebih tinggi dapat menurunkan biaya produksi dan harga.
- Kebijakan Moneter Ketat: Kenaikan suku bunga atau pengetatan kebijakan moneter lainnya dapat mengurangi jumlah uang yang beredar.
- Peningkatan Penawaran: Jika ada peningkatan signifikan dalam penawaran barang dan jasa tanpa adanya peningkatan permintaan, harga cenderung turun.
Dampak Deflasi
Deflasi dapat memiliki berbagai dampak, baik positif maupun negatif, terhadap ekonomi.
Dampak Positif
- Peningkatan Daya Beli: Harga yang lebih rendah berarti konsumen dapat membeli lebih banyak barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama.
- Tabungan yang Bernilai Lebih Tinggi: Nilai uang yang disimpan meningkat, yang dapat mendorong orang untuk menabung lebih banyak.
Dampak Negatif
- Penundaan Pembelian: Konsumen mungkin menunda pembelian barang dan jasa dengan harapan harga akan turun lebih jauh, yang dapat mengurangi permintaan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
- Peningkatan Beban Utang: Deflasi meningkatkan nilai riil utang. Jika harga turun, pendapatan nominal mungkin juga menurun, membuat pembayaran utang lebih sulit bagi individu dan perusahaan.
- Pengangguran: Penurunan permintaan barang dan jasa dapat menyebabkan perusahaan mengurangi produksi dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
- Resesi Ekonomi: Deflasi yang berkelanjutan dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi, karena menurunnya permintaan dan produksi.
































