InfoEkonomi.ID – Perusahaan pembiayaan terkemuka di Indonesia, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) telah mengumumkan pencapaian pendapatan perusahaan sebesar Rp1,6 triliun pada kuartal pertama tahun 2024. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 5,5% secara year-on-year.
Penurunan pendapatan ini diiringi dengan laba bersih BFI Finance yang mencapai Rp361,4 miliar pada kuartal pertama tahun 2024. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 28,97 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain itu, piutang pembayaran juga turun menjadi Rp1,44 triliun.
“Dengan pergerakan ekonomi yang cukup dinamis di triwulan pertama ini yang diwarnai dengan perhelatan pilpres, momentum Ramadan, serta kondisi geopolitik, kami tetap fokus menerapkan risk appetite yang konservatif pada penyaluran kredit yang disetujui untuk menjaga kualitas aset dan fundamental bisnis perusahaan,” ujar Sudjono melalui keterangan tertulis, dikutip Jumat (26/4).
Berdasarkan data, bisnis BFI Finance masih didominasi oleh pembiayaan kendaraan roda empat dan roda dua sebesar 61,7 persen, diikuti oleh pembiayaan kendaraan roda empat bekas dan baru sebesar 14,9 persen. Adapun portofolio pembiayaan dengan tujuan sektor produktif terlapor paling banyak digunakan untuk pembiayaan modal kerja, mencapai 58,2 persen.
Portofolio pembiayaan dengan tujuan sektor produktif terlapor paling banyak, yakni sebesar 58,2 persen untuk pembiayaan modal kerja. Di samping itu, pembiayaan investasi sebesar 20,1 persen, pembiayaan multiguna 18,7 persen, dan berbasis syariah 3,0 persen.
Sementara itu, performa imbal hasil rata-rata atas aset dan imbal hasil rata-rata atas ekuitas masing-masing menempati level 7,5 persen dan 14,9 persen.
Nilai total aset perusahaan yang dilaporkan sebesar Rp 24,2 triliun. Nilai ini meningkat 0,9 persen yoy dibandingkan nilai di kuartal I 2023 yaitu Rp 24 triliun. Sudjono mengatakan, besarnya kelolaan aset yang dimiliki oleh perusahaan saat ini turut terkontribusi dari total piutang pembiayaan yang dikelola (managed receivables) sebesar Rp 22,5 triliun hingga Maret ini, dengan nilai pembiayaan baru tercatat sebesar Rp 4,8 triliun.
Lebih lanjut, rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) berhasil ditekan hingga berada di level 1,24 persen bruto dan 0,23 persen neto per 31 Maret 2024.
Untuk strategi dan arah bisnis tahun 2024, Sudjono mengatakan, terdapat pengembangan produk keuangan baru serta optimalisasi produk yang sudah berjalan saat ini. Hal tersebut diyakini dapat mendukung target pertumbuhan bisnis perusahaan seiring dengan upaya mengembangkan teknologi terkini. Hal ini guna mendukung pengembangan bisnis perusahaan yang berbasis teknologi end-to-end dan berkelanjutan.
“Nilai tercatat untuk intangible asset atau aset tak berwujud peranti lunak meningkat sekitar 58,4 persen YoY dari Rp 151,8 miliar menjadi Rp 240,4 miliar, di mana biaya ini dikeluarkan untuk mengakselerasi pengembangan teknologi sistem operasional bisnis perusahaan,” pungkasnya.
































