InfoEkonomi.ID – PT PP Tbk (PTPP) menargetkan penjualan tahun ini tumbuh sebesar Rp21 triliun di 2024. Target tersebut tak terlepas dari beban berat PTPP atas investasinya di anak usaha terutama yang bergerak di sektor properti.
Sekretaris Perusahaan PTPP Bakhtiyar Efendi menyampaikan bahwa investasi PTPP di anak usaha dalam hal ini PP Properti terjadi permasalahan yang masih agak berat dari sisi bisnis, sehingga turut menggerus laba secara konsolidasi pada 2023 sebesar Rp127 miliar.
Karena itu, perseroan telah menghentikan pengembangan investasi di sektor properti untuk menyehatkan kembali keuangan PTPP. Itulah mengapa, perseroan mendivestasi portofolio aset anak usaha untuk mendukung penyehatan perusahaan. Mengingat, saat ini liabilitas masih tinggi dan leverage yang berbunga juga cukup tinggi.
“Jadi, kami cocokkan dengan strategi divestasi supaya lebih sehat dan perusahaan lebih lancar lagi dalam menjalankan bisnisnya. Target divestasi tahun ini Rp 3 triliun meliputi sektor energi, jalan tol, properti. Aset-aset anak usaha kami divestasi untuk memperoleh dana segar dan menurunkan leverage yang masih cukup tinggi,” sebutnya yang dilansir dari Investor.id.
Karena jika tidak dilakukan demikian, kata Efendi, beban keuangannya akan terus berjalan. Yang pada gilirannya, tidak saja memangkas perolehan laba konsolidasian, tapi juga akan berdampak terhadap penjualan PTPP. Makanya, penjualan perseroan pada tahun buku 2023 mencatatkan hampir Rp 20 triliun, atau tidak mencapai dari target yang ditetapkan.
“Di 2024, kami berencana sehatkan lagi. Jadi, kami melakukan refinancing dan efisiensikan (PP Properti). Kemarin, kami cukup bagus di sisi induk bisnis konstruksi yang meningkat Rp 481 miliar atau 70% yoy. Cuma, investasi di anak usaha agak terkendala. Itu yang membuat laba konsolidasi kami sedikit turun di tahun buku 2023,” beber Efendi di Jakarta, Kamis (21/3/2024).
Untuk mengatasi permasalahan itu, Efendi menerangkan, PTPP sudah menyiapkan strategi berupa excellence construction. Strategi ini lahir atas pertimbangan bisnis konstruksi yang sudah semakin mature, namun perseroan ingin naik kelas menjadi perusahaan konstruksi yang jauh lebih baik termasuk mampu eksis di kawasan Asia Tenggara.
“Kami sudah ekspansi ke Filipina. Kami coba proyek pioneer kami agar bisa keluar negeri. Lewat strategi excellence construction, kami juga ingin memperkuat manajemen risiko dan environmental social governance (ESG),” ujar dia.
Penguatan manajemen risiko akan perseroan implementasikan dengan lebih selektif mengambil proyek-proyek yang dari sisi pendanaan bagus dan menguntungkan. Dengan cara seperti itu, Efendi optimistis, PTPP akan naik kelas dan menjadi pilihan bagi para calon pemberi kerja atau project owner di luar proyek strategis nasional (PSN) yang bersifat penugasan.
“Tahun lalu, kami juga sudah membuat roadmap penerapan ESG agar dari tahun ke tahun konsumsi karbonnya menurun. Pertama, kami buat baseline, lalu dari tahun ke tahun targetnya semakin bagus dalam mereduksi karbon, sebagai langkah awal, kami sudah menjadi pioneer di konstruksi dan ini semakin digalakkan,” tutup Efendi.

































