InfoEkonomi.ID – Dokter Spesialis Paru RS Pelni dr. Berly, Sp.P menguraikan, dampak-dampak yang terjadi pada manusia apabila terlalu sering terpapar polusi udara dimulai dari iritasi muka, seperti mata berair, hidung berair, kemudian bersin-bersin, sakit tenggorokan, hingga iritasi pada kulit.
Selain itu, lanjutnya, bisa juga terjadi pada paru dan pernapasan seperti gejala sesak nafas, batuk batuk. Kemudian, terjadinya risiko penyakit asma, pneumonia, sampai ke kanker paru.
Bisa juga terjadi risiko pada jantung dan pembuluh darah kemudian risiko penyakit stroke, pada ibu hamil terjadi risiko kelahiran dengan berat badan lahir rendah, kemudian gangguan kognitif pada anak sehingga menjadi stunting.
Lebih jauh, risiko yang terjadi bisa keracunan gas oksigen yang terhirup, kemudian pada pasien pasien yang mengalami sakit asma atau sakit pada otot atau jantung bisa terjadi perburukan gejala.
Untuk menghindari polusi ini, dr. Berly menyarankan beberapa poin. Pertama, berperan aktif untuk mengurangi sumber polusi seperti beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi massal.
Kedua, jangan membakar sampah secara sembarangan. Dan yang ketiga, meminimalkan paparan polusi udara seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kemudian hindari aktivitas berat termasuk olahraga di luar ruangan, serta menghindari area atau kawasan polusi udara.
Kualitas udara kurang sehat yaitu ketika air quality index di atas 150. Untuk mengetahuinya, diuraikan dr. Berly, Sp.P, kita dapat memantau kualitas udara secara real time dan jangan lupa memakai masker apabila beraktivitas di luar ruangan.
Sempat menuding Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara atas memburuknya kualitas udara DKI Jakarta, fakta menunjukan ternyata sektor transportasi, terutama sepeda motor, yang menjadi biang kerok utama polusi kota di beberapa minggu terakhir.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI mengungkapkan, sepeda motor penghasil beban pencemaran per penumpang paling tinggi dibandingkan mobil pribadi, mobil penumpang, dan bus.
Populasi sepeda motor juga mencapai 78% dari total kendaraan bermotor di DKI Jakarta sebanyak 24,5 juta kendaraan, dengan pertumbuhan 1.046.837 sepeda motor per tahun.
Menurut data WHO, polusi udara ini menyumbang sekitar 7 juta kematian dari seluruh dunia berdasarkan data pada tahun 2019.
Di Indonesia sendiri polusi udara menyumbang urutan kelima dari faktor risiko kematian di bawah hipertensi, gula darah tinggi, obesitas, dan merokok.
































