InfoEkonomi.ID – PT Brantas Abipraya (Persero), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang konstruksi sedang mengebut penyelesaian Bendungan Keureuto.
Bendungan Keureuto yang terletak di Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara ini merupakan salah satu fasilitas masyarakat yang dibangun sejak tahun 2015.
Direktur Operasi I Brantas Abipraya, Muhammad Toha Fauzi mengatakan bahwa Bendungan Keureuto nantinya dapat menampung air dari Sungai Krueng Keureuto, sehingga bendungan tersebut dapat menjadi solusi banjir di Aceh Utara.
“Bendungan yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini berkapasitas tampung 215,94 juta per meter kubik serta memiliki tampungan khusus banjir sekitar 30,39 juta meter kubik,” ujar Toha.
Ia menambahkan, sebagai pengendali banjir, Bendungan Keureuto mampu mengurangi debit banjir sampai dengan periode ulang 50 tahun di kawasan Aceh Utara.
Bendungan tersebut juga akan difungsikan untuk menyediakan air irigasi yang mampu mengairi lahan seluas 9.420 hektare, sehingga kebutuhan air masyarakat di sekitar bendungan dapat terpenuhi.
Bendungan yang ditargetkan tuntas pada akhir 2023 ini nantinya akan menyediakan air baku dengan kapasitas 0,5 meter kubik per detik.
Brantas Abipraya juga membangun fasilitas yang menjadi nilai tambah di bendungan yang bakal menjadi bendungan terbesar di Sumatera ini, yakni dapat dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 6,34 MW.
Bendungan ini diharapkan dapat turut menyokong produktivitas irigasi di Aceh Utara dan sekitar.
Selain memberi nilai tambah untuk daerah sekitar bendungan yang dibangun Brantas Abipraya, karya infrastruktur sumber daya air yang sedang dikerjakan dan juga telah dirampungkan ini adalah jawaban dari tantangan climate change atau perubahan iklim.
Seperti diketahui, kondisi tersebut mengakibatkan kekurangan air pada musim kemarau dan saat curah hujan tinggi dapat mendatangkan banjir.
Toha menyampaikan, pembangunan bendungan adalah hal penting, dan ini juga merupakan komitmen Brantas Abipraya selalu hadir untuk Indonesia dalam mempersiapkan infrastruktur guna mendukung pemerintah dalam mengatasi tantangan perubahan iklim global.
“Melalui bendungan kita dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memudahkan masyarakat sekitar dalam memperoleh air bersih yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, serta meningkatkan perekonomian masyarakat,” tutup Toha.

































