InfoEkonomi.ID – Perum Bulog kembali buka suara terkait rencana Vietnam yang akan memangkas ekspor beras ke beberapa negara tujuannya, tak terkecuali Indonesia.
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab dikenal dengan Buwas mengaku tidak terlalu mempersoalkan jika Vietnam resmi melakukan kebijakan pemangkasan ekspor beras tersebut. Lantaran menurut dia setiap negara memang memiliki kebijakan masing-masing.
“Enggak masalah karena itu kondisi, situasi, negara- negara punya kebijakan,” ujarnya saat ditemui di kawasan Senayan Jakarta, Senin (5/6/2023).
Walau demikian, Buwas, sapaannya, mengatakan, Indonesia tetap harus memiliki alternatif negara lain yang tetap bisa mengekspor berasnya ke dalam negeri ketika dibutuhkan.
“Vietnam oke punya kebijakan itu, tapi ada Thailand, India, Pakistan ya, kita lihat saja ada alternatif lain,” ungkap Buwas.
Buwas menyebutkan, Vietnam memang menjadi negara pengimpor beras terbanyak ke tiga untuk Indonesia.
“Sementara emang iya terbanyak dari sana. Tapi sementara mereka mau nutup kan berarti kita harus ada alternatif. Myanmar kan juga banyak produksi, terus India juga banyak, Pakistan juga banyak,” ucap Buwas.
Sementara itu Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan, dengan adanya kebijakan pemangkasan ekspor beras Vietnam, seharusnya Indonesia mampu memenuhinya dengan produksi dalam negeri.
“Ini waktunya Indonesia produksi sendiri,” kata Arief singkat.
Sebagai informasi, Vietnam berencana untuk mengurangi ekspor berasnya menjadi 4 juta ton per tahun pada tahun 2030. Angka ini turun 44 persen dari volume ekspor beras sebanyak 7,1 juta ton di tahun lalu.
Alasan utama Pemerintah Vietnam untuk mengurangi volume ekspor beras tersebut demi mengamankan pasokan beras dalam negeri. Diketahui, Vietnam merupakan pengekspor beras terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Thailand.
“Langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan ekspor beras berkualitas tinggi, memastikan ketahanan pangan dalam negeri, melindungi lingkungan dan beradaptasi dengan perubahan iklim,” tulis dokumen pemerintah tertanggal 26 Mei, Rabu (31/5/2023).
Dalam laporan tersebut juga terungkap, pendapatan negara dari ekspor beras akan turun menjadi 2,62 miliar dollar AS per tahun pada tahun 2030. Realisasi ini anjlok dari penerimaan 3,45 miliar dollar AS pada tahun 2022, dilansir dari Kompas.

































