InfoEkonomi.ID – PT PP (Persero) Tbk (PTPP) telah mengumumkan kinerja perseroan hingga akhir kuartal I 2023. Pada periode tersebut, perseroan mencatatkan pertumbuhan dari sisi pendapatan maupun laba bersih.
PTPP mencatatkan raihan laba bersih pada kuartal I 2023 naik 21,47 persen sebesar Rp34,22 miliar dari Rp28,17 miliar pada periode yang sama 2022. Aset PTPP sampai dengan Maret 2023 naik menjadi Rp58,69 triliun dari Rp57,61 triliun pada Desember 2022. Liabilitas tumbuh menjadi Rp43,81 triliun pada kuartal I 2023 dari tahun sebelumnya Rp42,79 triliun.
Melansir laporan keuangan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (4/5/2023), pendapatan usaha pada kuartal I 2023 naik 1,86 persen menjadi Rp4,36 triliun dari Rp4,28 triliun pada kuartal I 2022.
Sementara, beban pokok pendapatan pada periode yang sama naik 1,87 persen menjadi Rp3,80 triliun dari periode yang sama sebelumnya Rp3,73 triliun. Dengan demikian, laba bruto meningkat 3,53 persen menjadi Rp563,74 miliar hingga akhir Maret 2023 dibanding periode yang sama 2022 sebesar Rp544,47 miliar.
Sepanjang kuartal I 2023, PTPP telah membukukan laba tahun berjalan Rp61,60 miliar naik 15,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp53,41 miliar.
Sementara ekuitas hingga Maret 2023 naik menjadi Rp14,87 triliun dibandingkan posisi Desember 2022 sebesar Rp14,82 triliun.
Gerak Saham PTPP
Pada penutupan perdagangan saham Kamis, 4 Mei 2023, saham PTPP naik 1,69 persen ke posisi Rp 600 per saham. Saham PTPP dibuka stagnan di posisi Rp 590 per saham. Saham PTPP berada di level tertinggi Rp 605 dan terendah Rp590 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.320 kali dengan volume perdagangan 119.345 lot saham. Nilai transaksi Rp 7,1 miliar.
PTPP Bakal Divestasi Aset Rp 1,4 Triliun pada 2023
Sebelumnya, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berencana melakukan pelepasan aset (divestasi) senilai Rp 1,4 triliun pada 2023. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PP Tbk, Agus Purbianto mengatakan, pelepasan aset ini dalam rangka menjaga arus kas perseroan, sesuai dengan RKAB untuk menjadi asset recycling.
“Jadi aset recycling ini di satu sisi terkait dengan divestasi berupa saham ataupun juga berupa obyek atau aset-aset. Untuk saham ini ada di beberapa anak maupun cucu yang mana kita rencanakan di beberapa titik.Untuk aset lebih banyak dilakukan di anak usaha khususnya PPRO adalah aset berupa landbank maupun unit-unit apartemen yang memang merupakan kegiatan pokok mereka,” beber Agus dalam konferensi pers usai RUPST Perseroan, Rabu (12/4/2023).
Selain itu, juga ada pelepasan aset PP Presisi ada terkait dengan aset-aset yang butuh peremajaan dan beberapa bisnis yang sudah tidak lagi digeluti.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Strategi Korporasi dan HCM PT PP, Sinur Linda Gustina menjelaskan divestasi senilai Rp 1,4 triliun ditargetkan rampung tahun ini.
“Kalau divestasi tahun ini kita-kira Rp 1,4 triliun. Jadi di aset-aset terafiliasi senilai Rp 450 miliar, divestasi di anak usaha ada sekitar hampir Rp 1 triliun di anak usaha. Kita harapkan selesai tahun ini. Sekarang lagi beberapa proses NDA dan juga kita sedang offering,” kata Linda.
Adapun untuk aset perusahaan terafiliasi, perseroan akan mengutamakan penawaran kepada pemegang saham mayoritas terlebih dahulu. Sementar auntuk divestasi aset entitas anak langsung, perseroan membuka peluang untuk semua pihak, baik BUMN maupun swasta, dilansir dari liputan6.
































