InfoEkonomi.ID – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2023 berkisar Rp 36-40 triliun atau 25% dari total estimasi pendapatan. Tahun lalu, Telkom juga menetapkan rasio capex terhadap pendapatan di level tersebut, dengan realisasi Rp 28,6 triliun per akhir kuartal III.
Senior Vice President (SVP) Corporate Communication and Investor Relation Telkom Ahmad Reza menerangkan, capex itu akan digunakan perseroan untuk pengembangan mobile, fixed broadband, dan bisnis lain, seperti data center.
Dia menambahkan, Telkom juga masih mematangkan rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham anak usaha, PT Sigma Cipta Caraka atau Telkomsigma. Prinsipnya, perseroan ingin IPO Tekomsigma menghasilkan nilai optimal bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan. Sebab, Telkomsigma akan menjadi pelaksana business to business information technology (B2B IT) service Grup Telkom.
“Telkomsigma disiapkan menjadi pemain terdepan B2B IT service untuk melayani pasar korporasi, BUMN, pemerintah, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” katanya dikutip dari laman Investor Daily, Senin (6/2/23).
Sejalan dengan itu, dia menegaskan, perseroan akan fokus mengembangkan inisiatif B2B IT service melalui Telkomsigma dengan langkah transformasi baik secara internal maupun eksternal melalui kemitraan dan kolaborasi dengan perusahaan teknologi global. Contohnya dengan Microsoft dan Amazon Web Services (AWS), anak usaha Amazon di bidang layanan cloud computing.
Secara terpisah, Vice President Corporate Communications Telkomsel Saki Hamsat Bramono menambahkan, Telkom melalui anak usahanya Telkomsel juga terus mendukung upaya transformasi bisnis yang sedang dilakukan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), pengelola produk LinkAja untuk memperkuat kinerja perusahaan secara berkelanjutan.
“Telkomsel bersama seluruh pemegang saham lain, terutama dari ekosistem BUMN, akan senantiasa mendorong dan melanjutkan upaya kolaborasi bersama Finarya,” ungkapnya.
Saki menuturkan, ada potensi Telkomsel menambah investasi melalui berbagai pertimbangan guna memperkuat sinergi keunggulan aset antar perusahaan. Ini diharapkan dapat semakin membuka lebih banyak potensi kemajuan dalam mendukung performansi LinkAja ke depan.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas (Mansek) mencatat, Telkom memandu pertumbuhan pendapatan, EBIDA, dan laba bersih satu digit tahun ini, didorong oleh pertumbuhan pendapatab Telkomsel yang juga satu digit. Layanan fixed mobile convergence (FMC) akan menjadi fokus Telkom tahun ini, sedangkan capex akan diarahkan ke data center dan infrastruktur untuk mendongkrak bisnis B2B.
Telkom, tulis Mansek, juga memandu rasio dividen 65-80% untuk tahun buku 2022. Dengan demikian yield dividen mencapai 10%. Mansek mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 5.000, dibandingkan kemarin Rp 3.880.
Sementara itu, Direktur Equator Swarna Capital Hans Kwee memproyeksikan kinerja Telkom tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu, karena pasar cenderung bergerak positif.
Apalagi, dia menuturkan, penurunan kinerja perseroan tahun lalu juga lebih disebabkan oleh rugi yang belum terealisasi akibat keputusan investasi di perusahaan teknologi.
“Tetapi, secara umum, kinerja Telkom tahun ini akan lebih dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.

































