InfoEkonomi.ID – Harga cabai dan sejumlah bahan kebutuhan pokok (sembako) di pasar tradisional, Surabaya, Jawa Timur naik karena gagal panen. Di Pasar Pabean, Surabaya harga cabai rawit naik 100% mencapai Rp 55.000-Rp 60.000 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 25.000-Rp 30.000 per kilogram.
Midi, salah seorang pedagang cabai mengatakan kenaikan harga cabai sudah terjadi sejak seminggu terakhir karena gagal panen.
“Cabai di Surabaya dikirim dari Mojokerto dan Probolinggo,” ujar Midi, Selasa (14/2/23).
Melonjaknya harga cabai mempengaruhi omzet penjualan pedagang. Dalam sehari, cabai hanya terjual tiga kuintal, turun dari dua kuintal dari sebelumnya. Para pedagang memprediksi kenaikan harga akan terus terjadi hingga Maret 2023. Dia memprediksi puncak kenaikan harga akan terjadi pada bulan Ramadan, tepat seminggu menjelang lebaran Idulfitri.
“Kenaikannya sudah 1 minggu, karena banyak tanaman mati kena hujan, pengaruhnya sepi pembeli, kadang pembeli ambil cabai yang kering, dulu sebelum harga cabai naik bisa jual 5 kuintal, kalau sekarang 4-3 kuintal dikarenakan pohonnya banyak yang mati karena faktor hujan,” ungkap Midi dikutip dari laman Beritasatu.
Kenainan harga cabai juga dikeluhkan pedagang makanan. Salah satunya yang dirasakan Yusiati. Kenaikan harga cabai sangat berdampak pada bisnis warung makanannya. Meski harga cabai tengah naik, tetapi dirinya tidak bisa menaikkan harga makanan yang dijualnya.
Agar tidak mengalami kerugian dan menurunkan kualitas makanan, khususnya sambal, dia mencampur cabai rawit dengan cabai merah.
































