Gandeng BRIN dan Kampus, Kementan Kembangkan Pakan Presisi Unggas Lokal

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penerapan pakan presisi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing unggas lokal Indonesia. Pendekatan ini menyesuaikan pemberian pakan dengan jenis, umur, bobot badan, fase pertumbuhan, dan tujuan produksi ternak sehingga penggunaan pakan menjadi lebih efisien dan potensi unggas dapat dioptimalkan.

Pakan presisi juga membuka peluang pemanfaatan bahan pakan lokal secara lebih optimal. Dengan mengetahui kandungan nutrisi dan tingkat kecernaan bahan, formulasi pakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan ternak tanpa mengorbankan performa produksi.

Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Tri Melasari atau Mela, mengatakan pendekatan tersebut penting karena unggas lokal Indonesia memiliki karakteristik genetik, kemampuan produksi, dan kebutuhan nutrisi yang beragam.

“Pakan presisi merupakan pendekatan pemberian pakan yang disesuaikan secara tepat dengan kebutuhan nutrisi ternak berdasarkan jenis, umur, bobot badan, fase pertumbuhan maupun tujuan produksinya,” ujar Mela dalam webinar yang digelar Kementan dengan tema “Strategi Pengembangan Pakan Presisi untuk Unggas Lokal Indonesia” secara daring, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, penerapan pakan presisi membutuhkan dukungan data yang kuat, baik mengenai potensi genetik dan performa produksi unggas lokal maupun kandungan nutrisi dan kecernaan bahan pakan. Data tersebut menjadi dasar untuk menyusun formulasi yang sesuai dengan kebutuhan ternak pada setiap fase pertumbuhan dan produksi.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Muhsin Al Anas, mengatakan bahwa bahan pakan lokal seperti singkong, bungkil sawit, dan kopra memiliki peluang untuk dimanfaatkan dalam pengembangan pakan presisi. Namun, penggunaannya perlu didukung oleh pengujian kualitas dan kecernaan agar substitusi bahan pakan dilakukan secara tepat.

“Pemanfaatan bahan pakan lokal, seperti singkong, bungkil sawit, dan kopra, juga menjadi salah satu peluang untuk mendukung pengembangan pakan presisi. Namun, penggunaannya perlu didukung pengujian kualitas dan kecernaan agar substitusi bahan pakan dapat dilakukan secara tepat tanpa menurunkan performa produksi,” kata Anas.

Untuk memperkuat penerapan pakan presisi, Kementan mendorong penyusunan dan pembaruan basis data nasional mengenai potensi genetik dan performa produksi unggas lokal, serta nilai nutrisi dan kecernaan bahan pakan dari berbagai daerah.

Data tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan formulasi pakan yang lebih tepat sesuai dengan kualitas bahan baku dan target produksi. Dengan demikian, peternak dapat memperoleh rekomendasi pakan yang lebih sesuai dengan kondisi ternaknya dan bahan yang tersedia di daerah.

Kementan juga mendorong kolaborasi dengan BRIN, perguruan tinggi, dan pelaku usaha untuk memperkuat riset bahan pakan, pengembangan standar kecernaan, serta pemanfaatan teknologi digital yang terjangkau dan mudah diterapkan oleh peternak, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Mela menegaskan, pengembangan pakan presisi harus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di lapangan, bukan berhenti pada riset.

“Semoga forum ini dapat menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan langkah nyata yang dapat kita implementasikan untuk mewujudkan sistem pakan yang semakin efisien, produktif, dan berkelanjutan,” tutup Mela.

Melalui pakan yang lebih tepat, pemanfaatan bahan lokal yang lebih optimal, serta dukungan data dan teknologi, Kementan mendorong unggas lokal Indonesia menjadi semakin produktif, efisien, dan berdaya saing.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img