Kementan Perkuat Industri Vaksin Hewan Nasional, Indonesia Kini Ekspor ke 29 Negara

Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kemandirian industri vaksin hewan nasional sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan ternak, keberlanjutan produksi unggas, dan ketahanan pangan.

Kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan sejumlah vaksin unggas dari produksi dalam negeri sekaligus mengekspornya ke berbagai negara menunjukkan semakin kuatnya kapasitas industri kesehatan hewan nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan Indonesia saat ini telah mampu memenuhi kebutuhan vaksin untuk sejumlah penyakit utama unggas, termasuk Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND), dari produksi dalam negeri.

“Untuk vaksin AI dan ND, kita tidak lagi bergantung pada impor. Kebutuhan kita sudah dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, bahkan produk tersebut sudah bisa kita ekspor. Ini menunjukkan kemampuan industri vaksin nasional semakin kuat,” ujar Agung saat pelepasan ekspor perdana vaksin PT Vaksindo Satwa Nusantara ke empat negara Afrika di Bogor, Kamis (24/9/2026).

Menurut Agung, kemampuan memproduksi vaksin secara mandiri memiliki arti strategis karena kesehatan unggas berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan produksi daging ayam dan telur.

“Kecukupan protein hewani kita, khususnya daging ayam dan telur, bukan hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi ternaknya. Di belakang produksi yang terjaga, ada sistem kesehatan hewan dan penggunaan vaksin yang baik,” katanya.

Agung menjelaskan, pengalaman Indonesia menghadapi Avian Influenza sejak 2003 menunjukkan pentingnya strategi vaksinasi yang disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi peternakan nasional.

Indonesia memilih menerapkan program vaksinasi AI untuk membantu melindungi peternakan sekaligus menjaga kesinambungan produksi unggas. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting dalam membangun sistem kesehatan unggas nasional.

“Kita memilih vaksinasi karena melihat kondisi Indonesia. Hasilnya, kesehatan unggas dapat terus dijaga dan produksi juga tetap berjalan secara konsisten. Pengalaman ini sekarang juga menjadi referensi yang dibagikan Indonesia kepada negara lain,” ujar Agung.

Ia menambahkan, sejumlah negara yang sebelumnya tidak menerapkan vaksinasi AI kini juga mulai menggunakan pendekatan vaksinasi untuk memperkuat perlindungan terhadap populasi unggasnya.

Pengalaman Indonesia tersebut, menurut Agung, menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan hewan tidak dapat dilepaskan dari kepentingan menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Penguatan kemampuan di dalam negeri juga tercermin dari meningkatnya penerimaan produk obat hewan Indonesia di pasar internasional.

Produk obat hewan nasional saat ini telah dipasarkan ke 95 negara, sedangkan PT Vaksindo Satwa Nusantara telah mengekspor produknya ke 29 negara dan terus mengembangkan pasar baru.

Dalam kegiatan tersebut, Vaksindo melepas ekspor perdana vaksin unggas ke Zambia, Uganda, Malawi, dan Republik Demokratik Kongo dengan nilai sekitar Rp1,9 miliar.

Agung mengatakan proses masuknya vaksin ke suatu negara bukanlah proses sederhana. Produsen harus memenuhi persyaratan teknis negara tujuan, standar internasional, evaluasi dokumen, dan dalam sejumlah kasus juga melalui audit fasilitas produksi.

“Kalau produk kita dapat diterima negara lain, artinya standar dan kualitasnya telah melalui proses penilaian. Semakin banyak negara yang menerima produk Indonesia, semakin kuat pula pengakuan terhadap kualitas industri vaksin nasional,” ujarnya.

Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara sekaligus Head of Animal Health and Livestock Equipment JAPFA, Teguh Yodiantara Prajitno, mengatakan pasar vaksin dunia terus berkembang dan membuka peluang bagi produsen yang mampu menghadirkan produk sesuai dengan kebutuhan penyakit di masing-masing wilayah.

“Yang terpenting adalah menghadirkan vaksin yang tepat dan relevan bagi peternak. Karakter penyakit di negara tropis memiliki kebutuhan tersendiri, dan di situlah industri Indonesia memiliki peluang untuk terus berkembang,” ujar Teguh.

Agung menekankan bahwa penguatan industri vaksin nasional tidak boleh berhenti pada produk yang sudah tersedia. Dinamika penyakit hewan menuntut riset dan inovasi terus berkembang.

Kementan mendorong industri untuk mempercepat pengembangan vaksin bagi penyakit hewan menular strategis yang masih menjadi tantangan, sekaligus menghasilkan produk yang semakin mudah diterapkan di lapangan.

“Penyakit terus berkembang dan virus juga mengalami perubahan. Karena itu, industrinya juga harus terus berinovasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk merespons ancaman penyakit dengan cepat dan menghasilkan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” katanya.

Menurut Agung, kemampuan tersebut akan semakin memperkuat posisi industri kesehatan hewan sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan nasional.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, Kementan terus mendorong industri nasional meningkatkan kapasitas produksi, riset, dan inovasi agar Indonesia semakin siap menghadapi dinamika penyakit hewan.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kemampuan sendiri. Semakin kuat riset, produksi, dan inovasi vaksin di dalam negeri, semakin siap kita melindungi ternak, menjaga produktivitas, dan memastikan pasokan pangan asal hewan tetap terjaga,” pungkas Agung.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img