Selama 74 tahun, Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia membangun sistem kesehatan hewan nasional. Momentum tersebut kembali ditegaskan pada peringatan HUT ke-74 Pusvetma yang dirangkaikan dengan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026.
Peringatan yang digelar di Gedung Grha Vetma, Surabaya, Jumat (11/9/2026), menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Pusvetma sekaligus memperkuat langkah ke depan dalam membangun kemandirian vaksin dan produk veteriner dalam negeri. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pembukaan Co-Working Space serta diikuti oleh jajaran pegawai BBVF Pusvetma.
Kemandirian vaksin menjadi semakin penting karena kesehatan hewan memiliki hubungan langsung dengan keberlanjutan usaha peternakan. Ternak yang sehat mendukung produktivitas peternak, menjaga ketersediaan protein hewani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, dalam kesempatan sebelumnya menegaskan pentingnya memperkuat kemampuan produksi vaksin hewan dalam negeri dan peran Pusvetma sebagai bagian dari upaya tersebut.
“Kami ingin menjadi bagian dari kontribusi dengan memproduksi vaksin berkualitas untuk mendukung program pemerintah. Kesehatan ternak berhubungan langsung dengan produktivitas, sehingga produksi vaksin dalam negeri sangat penting bagi tercapainya swasembada pertanian, khususnya di sektor peternakan,” ujar Agung.
Pernyataan tersebut sejalan dengan langkah Kementan yang terus memperkuat kapasitas Pusvetma. Pada Mei 2026, Kementan memulai pembangunan fasilitas laboratorium produksi vaksin di BBVF Pusvetma Surabaya sebagai bagian dari penguatan kemampuan nasional dalam memenuhi kebutuhan vaksin hewan secara mandiri.
Pusvetma memiliki sejarah panjang dalam mendukung kesehatan hewan Indonesia. Institusi ini berdiri pada 1952 dengan nama Balai Penyelidikan Penyakit Mulut dan Kuku (BPPMK) di Wonocolo, Surabaya. Sejak awal, lembaga tersebut memiliki mandat dalam produksi vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk mendukung kebutuhan Indonesia dan kawasan.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang. Pusvetma tidak hanya menjalankan fungsi produksi vaksin, tetapi juga mengembangkan antisera, bahan diagnostika, dan produk biologis veteriner lainnya untuk mendukung sistem kesehatan hewan nasional.
Rekam jejak tersebut kembali terlihat dalam upaya pengendalian PMK. Pusvetma tercatat memiliki pengalaman panjang dalam produksi vaksin PMK dan pernah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia dalam mencapai status bebas PMK. Pada 2025, Agung Suganda juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali pengalaman keberhasilan Indonesia dalam pembebasan PMK melalui vaksin produksi dalam negeri.
Memasuki usia ke-74, tantangan Pusvetma tentu tidak lagi sekadar menjaga keberlangsungan produksi. Perubahan dinamika penyakit hewan, kebutuhan vaksin yang semakin beragam, perkembangan teknologi, serta tuntutan mutu yang semakin tinggi membutuhkan kapasitas institusi yang terus berkembang.
Karena itu, penguatan Pusvetma diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia, riset dan pengembangan, pengujian mutu, inovasi produk, serta modernisasi fasilitas.
Di sisi lain, peringatan HUT ke-74 Pusvetma yang berbarengan dengan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026 menjadi pengingat bahwa kesehatan hewan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan peternakan.
Bulan Bakti menjadi ruang untuk memperkuat semangat pelayanan dan pengabdian insan peternakan dan kesehatan hewan. Sementara bagi Pusvetma, momentum 74 tahun menjadi kesempatan untuk mempertegas kontribusinya dalam menyediakan produk veteriner yang mendukung perlindungan ternak dari berbagai ancaman penyakit.
Kepala BBVF Pusvetma mengatakan usia 74 tahun merupakan momentum untuk memperkuat komitmen seluruh insan Pusvetma dalam menjalankan mandat organisasi.
“Usia 74 tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak terlepas dari kontribusi seluruh generasi Pusvetma. Tantangan ke depan semakin kompleks sehingga kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas, inovasi, pelayanan, dan kapasitas produksi agar Pusvetma semakin mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan nasional,” ujarnya.
Peringatan tersebut juga diisi dengan rangkaian kegiatan yang membangun kebersamaan pegawai, mulai dari apel, senam bersama, jalan santai, hingga ramah tamah dan makan bersama. Pembukaan Co-Working Space turut menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang lebih adaptif, kolaboratif, dan terbuka terhadap gagasan baru.
Ke depan, penguatan Pusvetma diharapkan berjalan seiring dengan perkembangan subsektor peternakan nasional. Dengan dukungan teknologi, fasilitas, sumber daya manusia, dan inovasi yang semakin kuat, Pusvetma diharapkan mampu meningkatkan kontribusinya dalam menyediakan vaksin dan produk veteriner berkualitas bagi kebutuhan dalam negeri.
Pusvetma bukan sekadar tentang vaksin. Di dalamnya ada upaya menjaga ternak tetap sehat, melindungi peternak dari kerugian, menjaga produksi protein hewani, dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Memasuki usia 74 tahun, Pusvetma diharapkan terus tumbuh sebagai salah satu kekuatan nasional dalam kesehatan hewan sekaligus menjadi bagian dari langkah Indonesia untuk membangun kemandirian produk veteriner, peternakan yang tangguh, dan pangan yang berkelanjutan.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































