Hari Batik Nasional 2026 Digelar di Surabaya, Kemenperin Dorong IKM Tembus Pasar Global

Kementerian Perindustrian terus memperkuat upaya pelestarian sekaligus pengembangan industri batik nasional agar semakin berdaya saing. Salah satunya dilakukan melalui kolaborasi dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) dalam penyelenggaraan rangkaian Hari Batik Nasional (HBN) 2026.

Momentum peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi industri kecil dan menengah (IKM) batik untuk berkembang dan memperluas pasar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri batik memiliki peran penting dalam struktur industri nasional karena tidak hanya mengandung nilai budaya yang tinggi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi dan membuka peluang usaha bagi masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan industri batik perlu terus diperkuat melalui peningkatan kualitas, inovasi, kapasitas produksi, serta perluasan akses pasar.

“Batik tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang perlu terus dikembangkan. Pemerintah berkomitmen memacu IKM batik agar mampu meningkatkan kualitas, melakukan inovasi, memperluas akses pasar, dan semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (18/9).

Selain memiliki basis industri yang tersebar di berbagai daerah, produk batik Indonesia juga telah mampu menembus pasar ekspor. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, nilai ekspor produk batik pada tahun 2025 mencapai US$20,14 juta atau meningkat 32,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$15,20 juta.

Sementara itu, nilai ekspor komoditas batik pada triwulan II tahun 2026 tercatat sebesar US$4,39 juta, mengalami kontraksi sebesar 13,76 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai US$5,09 juta. Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya upaya berkelanjutan untuk memperluas pangsa pasar batik Indonesia di tingkat global.

Menperin menegaskan, penguatan industri batik perlu dilakukan melalui sinergi berbagai pihak dengan mencakup aspek pelestarian kekayaan budaya, peningkatan kapasitas IKM, inovasi produk, hingga perluasan akses pasar. Penyelenggaraan Hari Batik Nasional menjadi salah satu momentum strategis untuk memperkenalkan kekayaan batik dari berbagai daerah kepada masyarakat sekaligus pasar nasional dan internasional.

“Penyelenggaraan Hari Batik Nasional menjadi momentum penting untuk mengeksplorasi lebih jauh kekayaan batik yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah agar semakin dikenal oleh pasar. Hal ini sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap keberagaman motif, filosofi, dan kreativitas batik Indonesia,” kata Menperin.

Pengembangan IKM Batik

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan, pengembangan IKM batik perlu ditopang dengan peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, inovasi, serta akses terhadap pasar yang lebih luas. Terlebih, penggunaan batik kini terus berkembang dan tidak lagi terbatas sebagai busana adat maupun pakaian formal, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat, termasuk kalangan profesional dan generasi muda.

“IKM batik memiliki kekuatan pada kekayaan motif, keterampilan perajin, dan karakter khas dari masing-masing daerah. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, kami menekankan pentingnya IKM untuk mengembangkan produk yang tetap mempertahankan identitas budaya, namun mampu mengikuti kebutuhan dan tren pasar,” ujar Reni.

Dirjen IKMA menjelaskan, Kemenperin terus menumbuhkan dan mengembangkan IKM batik melalui berbagai program strategis, antara lain fasilitasi sertifikasi dan pengusulan pelindungan indikasi geografis, pembangunan dan revitalisasi sentra IKM, pengembangan sumber daya manusia industri, program restrukturisasi mesin dan/atau peralatan, penumbuhan wirausaha baru, serta fasilitasi promosi dan pameran secara berkelanjutan.

Selain itu, Kemenperin memberikan dukungan melalui fasilitasi sertifikasi produk, seperti Batikmark, Sertifikat Industri Hijau, dan Sertifikat Halal. Transformasi teknologi juga terus dipacu melalui penerapan Industri 4.0 pada industri batik, termasuk penggunaan Enterprise Resource Planning (ERP).

“Kami pun aktif memfasilitasi dan mendampingi pengusulan pelindungan Indikasi Geografis batik. Ada tiga yang telah difasilitasi dan terdaftar di Kementerian Hukum, yaitu Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Batik Tulis Complongan Indramayu, dan Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban,” tambah Reni.

Pengembangan industri batik juga diarahkan pada aspek keberlanjutan dan regenerasi perajin. Kemenperin telah melaksanakan berbagai program pengembangan sumber daya manusia melalui bimbingan teknis, pendampingan, seminar, dan talkshow. Selain itu, dilakukan penyusunan buku mengenai batik ramah lingkungan dan batik berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mentransformasi industri batik agar semakin adaptif terhadap tuntutan keberlanjutan dan perkembangan teknologi.

“Kami menyadari bahwa seluruh upaya ini tidak akan membuahkan hasil optimal tanpa adanya kolaborasi yang erat antarpemangku kepentingan. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat pecinta batik menjadi kunci untuk mewujudkan industri batik nasional yang tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional dan internasional,” ungkap Reni.

Sementara itu, Ketua Yayasan Batik Indonesia Gita Pratama Kartasasmita mengatakan, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan budaya batik yang beragam. Kekayaan tersebut antara lain tercermin dari Batik Madura dengan corak khas Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan yang berani dan penuh warna, Batik Malang dengan motif ikon kota, Batik Ponorogo, hingga Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban yang telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis sebagai bentuk pelindungan atas keaslian dan kekhasannya.

“Di antara kekayaan tersebut, IKM Batik Tulungagung merupakan salah satu yang masih memegang teguh motif otentik khas daerah hingga saat ini. Motif batik Tulungagung seperti Batik Kalangbret, Batik Bangoan, dan Batik Majanan harus terus dilestarikan,” ungkap Gita.

HBN 2026 Digelar di Surabaya

Puncak penyelenggaraan Hari Batik Nasional 2026 akan digelar di Kota Surabaya dengan beragam rangkaian kegiatan. Sebelumnya, Kemenperin juga telah melaksanakan sejumlah program pembinaan IKM batik, seperti fasilitasi Batikmark dan pendampingan diversifikasi produk batik.

Pameran Hari Batik Nasional 2026 akan diselenggarakan pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Kota Surabaya, dengan melibatkan lebih dari 40 peserta pameran. Kegiatan tersebut juga akan dimeriahkan dengan fashion show yang menampilkan beragam karya batik serta sejumlah talkshow untuk memberikan edukasi dan wawasan mengenai perkembangan industri batik nasional.

Pameran Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya juga menjadi bagian dari rangkaian Industrial Fest 2026, yang menghadirkan berbagai agenda untuk mendekatkan isu pengembangan industri kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman bahwa pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan inovasi, pemanfaatan teknologi digital, penerapan prinsip keberlanjutan, serta penguatan daya saing industri.

Dalam rangkaian Industrial Fest 2026 pada 1 Oktober 2026, akan digelar dua sesi talkshow. Sesi pertama mengangkat tema “Batik Unlocked: Digital, Sustainable, & Resilient”, yang membahas perkembangan batik dalam menghadapi transformasi digital, tuntutan keberlanjutan, dan pentingnya membangun industri yang tangguh.

Sementara itu, sesi kedua bertajuk “Core Memory in a Cloth: Kenapa Batik Harus Jadi Bagian dari Identitas Kita?”, yang mengajak generasi muda untuk melihat batik tidak hanya sebagai produk budaya dan fesyen, tetapi juga sebagai bagian dari identitas bangsa yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada 2 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional, melalui Kuliah Umum bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Kuliah umum ini mengusung tema “Make Your Move: Menjawab Tantangan Industri Masa Depan melalui Kebijakan, Inovasi, dan Aksi Gen-Z”.

Melalui forum tersebut, generasi muda diharapkan semakin memahami perkembangan dan tantangan sektor industri sekaligus mengambil peran aktif melalui kreativitas, inovasi, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung kemajuan industri nasional.

Sementara itu, puncak Perayaan Hari Batik Nasional akan diselenggarakan pada 2 Oktober 2026 di Dermaga Kapal Taman Prestasi Surabaya dengan mengusung tajuk “Batik Berlayar”.

Rangkaian HBN 2026 diharapkan menjadi ruang bagi para perajin, desainer, dan IKM batik untuk memperkenalkan kreativitas, inovasi, serta keberagaman karya batik Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas. Sinergi penyelenggaraan HBN dengan Industrial Fest 2026 juga diharapkan mampu memperluas keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan batik sekaligus menumbuhkan semangat untuk mengambil bagian dalam transformasi industri nasional.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img