Upaya mempercepat pengembangan populasi sapi perah dan produksi susu nasional terus dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui berbagai langkah, termasuk memastikan kesiapan sarana transportasi ternak. Pada Sabtu (8/8/2026) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan meninjau KM Camara Nusantara I di Semarang yang diproyeksikan mengangkut 200 ekor sapi perah bunting dari Baturraden menuju Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Peninjauan tersebut melibatkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), BBPTUHPT Baturraden, Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Badan Karantina Indonesia, PT PELNI, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kapal mampu memenuhi kebutuhan teknis selama perjalanan sekaligus menjaga kondisi ternak tetap aman dan sehat.
Direktur Pakan Ditjen PKH Kementan, Tri Melasari, mengatakan kesiapan kapal menjadi bagian penting dalam memastikan sapi perah dapat tiba di daerah tujuan dalam kondisi baik. Menurutnya, pengangkutan ternak tidak hanya mempertimbangkan kapasitas angkut, tetapi juga harus memperhatikan aspek kesehatan dan kesejahteraan hewan selama pelayaran.
“Yang paling utama adalah memastikan seluruh kebutuhan ternak selama perjalanan terpenuhi, mulai dari pakan, air minum, ventilasi, alas yang aman, hingga penanganan ternak selama berada di kapal. Semua aspek tersebut harus disiapkan dengan baik agar sapi tetap nyaman dan kondisinya terjaga sampai tujuan,” ujar Tri Melasari.
Dari hasil peninjauan, KM Camara Nusantara I dinilai berpotensi digunakan untuk pengiriman sapi perah dengan sejumlah penyesuaian teknis. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain lebar gangway, penempatan ternak di dek 2 dan 3 dengan tingkat kepadatan lebih rendah, penyediaan paddock untuk isolasi, kapasitas palka pakan, ketersediaan air minum, sistem ventilasi, hingga penggunaan alas antiselip.
Kepala BBPTUHPT Baturraden, Dani Kusworo, menambahkan bahwa kesiapan teknis tersebut harus disertai pengaturan pemeliharaan ternak selama perjalanan. Pengelolaan kotoran, ketersediaan petugas pemelihara ternak atau kleder, serta dokter hewan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pengangkutan.
“Kami ingin memastikan sapi yang dikirim bukan hanya sampai di tujuan, tetapi sampai dalam kondisi sehat dan siap beradaptasi di lokasi penerima. Karena itu, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, petugas, dan dokter hewan selama perjalanan harus dihitung secara cermat,” kata Dani.
Selanjutnya, para pihak akan melakukan koordinasi untuk menetapkan trayek dan pelabuhan, menyusun standar operasional prosedur (SOP) pengangkutan, membagi tanggung jawab masing-masing pihak, serta melakukan simulasi proses muat dan bongkar ternak. Rute Baturraden–Semarang–Bajoe–Bone menjadi salah satu opsi yang akan dikaji, dengan estimasi perjalanan normal sekitar lima hingga enam hari. Namun, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, dan operasional akan disiapkan untuk sedikitnya delapan hari sebagai langkah antisipasi.
Langkah ini menjadi bagian dari sinergi lintas instansi Kementan dan berbagai pihak terkait untuk memastikan pengiriman 200 sapi perah bunting berlangsung aman, lancar, serta memenuhi prinsip kesehatan dan kesejahteraan hewan.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































