PT Mandiri Utama Finance (MUF) berencana memperkuat perannya dalam mendukung transisi menuju logistik hijau melalui pengembangan skema pembiayaan kendaraan listrik yang lebih menarik bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Untuk mewujudkan hal tersebut, MUF akan melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia guna membahas peluang insentif serta model pembiayaan yang dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia.
Plt Direktur MUF, Dapot Parasian Sukoco Sinaga, mengatakan implementasi kebijakan logistik hijau yang terus didorong pemerintah membuka peluang besar bagi industri pembiayaan untuk berkontribusi dalam percepatan penggunaan kendaraan listrik.
“Kami akan lakukan konsultasi dengan APPI dan juga dengan OJK sebagai regulator kami. Karena sepertinya hal ini masih banyak ruang yang masih bisa di-push untuk mendukung logistik nasional,” ujar Dapot dalam BIG Strategic Forum 2026 di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Meski pemerintah telah menghadirkan berbagai insentif kendaraan listrik, MUF menilai permintaan pembiayaan motor listrik belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Menurut Dapot, sebagian besar masyarakat, khususnya pengemudi dan kurir, masih melihat kendaraan berbahan bakar minyak lebih ekonomis dibandingkan kendaraan listrik.
Selain faktor harga, sejumlah kendala teknis juga masih menjadi pertimbangan calon pengguna, termasuk kualitas dan konsistensi performa baterai tukar yang digunakan pada beberapa model motor listrik.
“Kalau ditanya apakah sudah ada kenaikan dari sisi demand, menurut kami di bisnis pembiayaan tidak signifikan. Ini masih jadi PR besar juga untuk kami, karena sebenarnya roda dua merupakan bisnis yang cukup menarik,” katanya.
MUF melihat sektor logistik sebagai salah satu pintu masuk paling potensial untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Perseroan menilai perusahaan jasa pengiriman, distribusi barang, hingga armada operasional milik BUMN dapat menjadi target utama implementasi kendaraan listrik karena memiliki kebutuhan kendaraan dalam jumlah besar.
Menurut Dapot, kendaraan operasional seperti motor petugas pencatat meter listrik, armada distribusi, hingga kendaraan operasional sektor perkebunan dapat menjadi pasar potensial bagi pengembangan pembiayaan kendaraan listrik.
“Nah itu sendiri sebenarnya bisa menjadi salah satu upaya kita, mungkin bersama-sama dengan OJK dan APPI untuk membuat suatu produk yang menarik sehingga percepatan itu bisa dilakukan melalui yang paling mudah saja, yaitu lewat BUMN,” katanya.
Selain sektor logistik dan BUMN, MUF juga melihat peluang besar dari ekosistem transportasi berbasis aplikasi seperti Grab dan Gojek.
Menurut perusahaan, mayoritas pengemudi transportasi online masih menggunakan kendaraan konvensional sehingga terdapat ruang yang sangat besar untuk melakukan transisi menuju kendaraan listrik secara bertahap.
Karena itu, MUF mendorong penyusunan skema pembiayaan yang lebih kompetitif dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi para pengemudi.
“Kalau dari yang non-EV itu 80% atau 90%, itu bisa menjadi fokus untuk transisinya ke EV. Skema seperti apa yang pembiayaan bisa tawarkan sehingga memberikan insentif yang cukup menarik bagi market untuk membelinya,” ujarnya.
Melalui pengembangan pembiayaan kendaraan listrik, MUF tidak hanya melihat peluang bisnis, tetapi juga kontribusi terhadap agenda keberlanjutan nasional.
Perusahaan meyakini peningkatan penggunaan kendaraan listrik dapat membantu mengurangi emisi karbon, menekan konsumsi bahan bakar bersubsidi, serta mendukung implementasi logistik hijau yang tengah didorong pemerintah.
Dengan menggandeng regulator, asosiasi industri, BUMN, serta ekosistem transportasi digital, MUF optimistis pembiayaan kendaraan listrik dapat menjadi salah satu motor penggerak percepatan transisi energi di sektor transportasi dan logistik Indonesia.
Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News































