Kabar Baik dari Sektor Pangan, Inflasi Beras Rendah dan NTP Petani Tertinggi dalam Beberapa Tahun

Tingkat inflasi nasional terus dijaga dan dikendalikan pemerintah secara kolaboratif. Salah satu yang harus terjaga fluktuasinya adalah harga pangan pokok strategis, termasuk beras. Tingkat inflasi beras pun terbukti mampu diredam secara kontinu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara bulanan, tingkat inflasi beras tak begitu bergejolak dalam 2 tahun terakhir. Inflasi beras yang terakhir cukup tinggi terjadi pada Mei 2024 di 3,59 persen. Setelah itu, inflasi beras selalu berada lebih rendah dan stabil. Inflasi beras memang sempat berfluktuasi pada Juli 2025, tapi hanya 1,35 persen saja. Terbaru, inflasi beras di Mei 2026 berada di 0,38 persen.

“Kita syukuri bahwa beras tak lagi menjadi penyumbang utama (inflasi) 2 tahun terakhir. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Mendagri (Tito Karnavian) atas support-nya selama ini,” ucap Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam rapat pengendalian inflasi di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Guna terus menjaga stabilisasi harga beras di tingkat konsumen, Kepala Bapanas Amran meminta seluruh pemerintah daerah dapat menggencarkan program pasar murah. Tidak hanya beras, tapi juga diharapkan dapat mendongkrak harga telur ayam dan daging ayam di tingkat peternak.

“Beras juga, kami mohon seluruh gubernur, bupati, wali kota

Indonesia, kalau perlu dengan Bulog, kita aktifkan pasar murah. Beras, ayam, telur. Kalau ayam dengan telur, ini terendah, sangat murah. Kalau bisa, Bulog membantu dan juga ID FOOD dengan pasar murah supaya menjadi offtaker dari telur dan ayam,” ujar Amran.

Adapun program pasar murah yang dikoordinasikan Bapanas bersama pemerintah daerah berupa Gerakan Pangan Murah (GPM). Total GPM yang telah terlaksana sejak Januari sampai awal Juni tahun ini tercatat sebanyak 5.308 kali di 37 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota. GPM akan terus-menerus dilaksanakan tanpa ada jeda.

Senada dengan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan adanya good news (kabar baik). Ia kemukakan bahwa komoditas beras saat ini tidak termasuk komoditas penyumbang inflasi nasional secara bulanan sebagaimana yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Good news-nya adalah bahan pokok yang utama seperti beras, itu tidak masuk dalam komoditas penyumbang utama (inflasi) month to month (secara bulanan). Beras itu biasanya yang menjadi penyumbang utama, itu yang menjadi concern dan kebutuhan utama masyarakat. (Sekarang) relatif cukup baik dijaga,” kata Mendagri Tito.

Meskipun begitu, Mendagri Tito tetap mengingatkan bahwa Indeks Perkembangan Harga (IPH) mingguan untuk beras masih bergerak dinamis. Seperti dalam laporan BPS, IPH beras sampai minggu kedua Juni masih berada di tingkat yang sedang. Sementara IPH yang tinggi dialami produk pangan hortikultura.

“Bawang merah nomor satu (IPH tertinggi). Cabai merah, cabai rawit, bawang putih, (tapi) bukan kebutuhan-kebutuhan utama. (Komoditas) yang memang menjadi tinggi adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, bawang putih tapi ini bukan komoditas utama, bukan makanan utama,” papar Tito.

“Beras memang ada beberapa daerah yang naik (IPH), tapi naiknya sedikit 116 kabupaten kota. (IPH beras) yang turun juga ada 50 kabupaten kota. (Jadi) good news-nya, beras bagus,” tambah Mendagri Tito Karnavian.

Kendati tingkat inflasi beras cukup rendah di sisi hilir tidak menandakan kesejahteraan petani yang terhimpit. Menurut data BPS, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) secara umum pada Mei 2026 meraih indeks tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di 127,73.

Sementara indeks NTP Tanpa Perikanan juga semakin tinggi hingga telah menyentuh 128,49 pada Mei 2026. Indeks NTP Tanpa Perikanan tersebut meningkat drastis terhadap rekor sebelumnya yang pernah mencapai 126,11 di Desember 2025.

Begitu pula, indeks NTP Subsektor Tanaman Pangan yang pada Mei berada di 113,79 dan menjadi indeks tertinggi di tahun 2026 ini. Untuk lebih spesifik lagi, indeks harga yang diterima petani padi di Mei 2026 pun juga semakin bergerak positif menjadi 147,97 dan merupakan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img