Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik yang masih berlangsung, industri perunggasan Indonesia terus menunjukkan daya saingnya di pasar internasional. Produk unggas nasional kembali menembus pasar ekspor melalui pengiriman hatching egg (telur tetas) ke Myanmar serta karkas dan olahan ayam ke Timor-Leste yang dilepas Kementerian Pertanian dalam rangkaian Indo Livestock Expo & Forum 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Rabu (17/6/2026).
Keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bahwa subsektor peternakan nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga semakin dipercaya pasar internasional melalui produk yang memenuhi standar mutu, keamanan pangan, dan kesehatan hewan.
Pada kesempatan tersebut, PT ISA Indonesia mengekspor 21.800 butir hatching egg atau setara 1.600 kilogram dengan nilai Rp812,5 juta ke Myanmar. Sementara itu, PT Sreeya Sewu Indonesia mengekspor 17,9 ton karkas dan produk olahan ayam senilai Rp1,043 miliar ke Timor-Leste.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa industri perunggasan nasional semakin kompetitif dan mampu memanfaatkan peluang pasar global di tengah berbagai tantangan yang ada.
“Capaian ini juga menjadi indikator bahwa industri perunggasan nasional memiliki daya saing yang kuat dan mampu menjawab kebutuhan pasar internasional melalui produk yang memenuhi standar mutu dan kesehatan hewan,” ujar Agung.
Menurutnya, keberhasilan ekspor tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan didukung oleh kondisi produksi nasional yang semakin kuat. Sepanjang tahun 2025, ketersediaan daging ayam nasional tercatat mencapai 4,37 juta ton, sementara kebutuhan dalam negeri sebesar 4,11 juta ton sehingga terdapat surplus sekitar 252 ribu ton. Di sisi lain, ketersediaan telur mencapai 6,56 juta ton dengan kebutuhan nasional sebesar 6,47 juta ton atau surplus sekitar 92 ribu ton.
Surplus produksi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor tanpa mengganggu pasokan dalam negeri. Di saat yang sama, ekspor juga membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi peternak dan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok industri unggas nasional.
Kinerja ekspor sektor peternakan juga menunjukkan tren yang terus membaik. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor komoditas peternakan Indonesia mencapai Rp23,6 triliun atau meningkat 10,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya kepercayaan pasar internasional terhadap produk peternakan Indonesia.
Bagi pelaku usaha, momentum ekspor ini menjadi bukti bahwa pasar global masih terbuka lebar bagi produk unggas Indonesia yang mampu memenuhi standar kualitas dan persyaratan negara tujuan.
Presiden Direktur PT ISA Indonesia, Jean Thomas Courtois, menyebut ekspor ke Myanmar sebagai tonggak penting bagi perusahaan setelah lebih dari dua dekade fokus melayani pasar domestik.
“Ini merupakan ekspor pertama kami setelah 23 tahun. Ini adalah langkah yang baik sebagai awal, dan ke depan kami akan terus meningkatkan kapasitas serta memperluas pasar secara bertahap,” jelas Jean.
Ia optimistis permintaan pasar internasional terhadap produk pembibitan unggas Indonesia akan terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan negara-negara tujuan dan semakin baiknya kualitas produk yang dihasilkan.
Bagi Kementerian Pertanian, capaian ekspor ini menunjukkan bahwa industri unggas Indonesia semakin siap bersaing di pasar global. Dengan dukungan produksi yang kuat, peningkatan kualitas produk, serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, sektor perunggasan nasional tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan, tetapi juga sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui ekspor.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































