Bapanas Perkuat Kampanye Pengurangan Sisa Pangan untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Upaya membangun budaya konsumsi pangan yang lebih bijak terus diperkuat melalui berbagai kolaborasi lintas sektor. Perubahan kebiasaan masyarakat, mulai dari merencanakan belanja, mengelola bahan pangan, hingga memanfaatkan makanan secara optimal, dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung pencegahan dan pengurangan sisa pangan di Indonesia.

Sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendukung pelaksanaan Studi Formatif Perubahan Perilaku Warga Perkotaan di DKI Jakarta Tahun 2026 yang digelar Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama mitra internasional WRAP (The Waste and Resources Action Programme) melalui inisiatif GRASP 2030 (Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan 2030).

Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, hadir sebagai pembicara dalam Co Design Workshop Kampanye Perubahan Perilaku dalam Pengurangan dan Penyelamatan Sisa Pangan di Jakarta. Menurut Nita, komitmen penyelamatan pangan terus diperkuat melalui kebijakan dan langkah nyata yang melibatkan berbagai pihak.

“Salah satu strategi Pemerintah dalam upaya penyelamatan pangan dilakukan melalui sosialisasi, edukasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat agar tumbuh pola konsumsi yang lebih bijak. Dukungan multipihak juga penting untuk membangun konstruksi sosial yang mampu membentuk kebiasaan baru dalam memanfaatkan pangan secara lebih bertanggung jawab,” ujar Nita, Kamis (21/5/2026).

Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat memiliki peran besar dalam memperluas pemahaman mengenai pentingnya pengurangan sisa pangan. “Langkah sederhana yang dilakukan secara bersama dapat memperkuat kesadaran kolektif sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional” ungkap Nita.

Senada dengan itu, Kepala Seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, M. Adib Awaludin, mengatakan seluruh unsur masyarakat memiliki kontribusi penting dalam mendorong pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan, khususnya di wilayah perkotaan.

“Sesuai Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2026, pengelola hotel, restoran, kafe, dan katering didorong memberikan potongan harga terhadap makanan yang mendekati masa kedaluwarsa namun masih aman dan layak dikonsumsi,” kata Adib.

Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa 49,87% sampah di Jakarta merupakan sampah organik, termasuk sisa makanan. Hal ini menjadi penguat dalam pelaksanaan kampanye perubahan perilaku masyarakat khususnya dalam pencegahan dan pengurangan sisa pangan.

Pada kesempatan yang sama, Food System Specialist FAO Indonesia, Yusmanetti Sari, menilai kampanye perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu pendekatan penting dalam memperkuat gerakan penyelamatan pangan. Ia juga menyampaikan dukungan FAO terhadap implementasi peta jalan pengurangan susut dan sisa pangan yang telah diterbitkan Pemerintah Indonesia.

“Salah satu strategi pengurangan food waste yang dikembangkan FAO melalui konsep circular loop, yakni mengolah sisa makanan menjadi sesuatu yang bernilai, seperti biogas dan maggot,” ujar Yusmanetti.

Sementara itu, Direktur Program Development IBCSD, Aloysius Wiratmo, berharap forum Co Design Workshop mampu menghasilkan behavioral insights yang dapat menjadi dasar penyusunan strategi komunikasi dan intervensi perubahan perilaku masyarakat dalam mendukung upaya penyelamatan pangan di Indonesia.

Melalui sinergi multipihak dan partisipasi publik yang semakin luas, gerakan penyelamatan pangan diharapkan dapat tumbuh menjadi budaya bersama demi mewujudkan sistem pangan nasional yang berkelanjutan dan lebih tangguh di masa depan.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img