Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil pada perdagangan Selasa di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve. IHSG dibuka menguat 21,95 poin atau 0,31 persen ke level 7.128,47, sementara Indeks LQ45 naik 1,76 poin atau 0,26 persen ke posisi 688,50.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek. “Kiwoom Research masih harus ingatkan para investor untuk persiapkan kemungkinan tutup gap di titik 7.022, atau konsolidasi lanjut ke level 7.000 – 6.917,” ujarnya dalam riset di Jakarta.
Dari sentimen global, ketegangan diplomatik antara AS dan Iran terus membayangi pasar. Presiden AS Donald Trump membatalkan negosiasi dan menegaskan bahwa AS “memegang semua kartu”. Di sisi lain, Iran membuka peluang pembukaan Selat Hormuz tanpa isu nuklir, namun AS menolak skema yang memberi ruang lebih besar bagi Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan jalur strategis tersebut harus tetap bebas.
Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar 28–29 April 2026. The Fed diperkirakan menjaga suku bunga tetap, namun Ketua Jerome Powell kemungkinan menyoroti ketidakpastian ekonomi dan risiko tekanan harga akibat lonjakan energi. “Jika harga minyak bertahan tinggi, komunikasi The Fed berpotensi lebih hawkish,” tambah Liza.
Dari Asia, keputusan Bank of Japan (BoJ) menjadi perhatian. BoJ diperkirakan menahan suku bunga di level 0,75 persen meski ekspektasi kenaikan sempat muncul. Menurut Liza, ketidakpastian global membuat BoJ cenderung bersikap dovish, namun bias kebijakan tetap mengarah pada kemungkinan kenaikan di Juni 2026.
Sementara dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi merombak indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 melalui pengumuman No. Peng-00067/BEI.POP/04-2026. Evaluasi yang efektif berlaku 4 Mei 2026 ini menekankan aspek free float, likuiditas, serta penghapusan HSC yang turut memengaruhi keluarnya beberapa saham big caps dari indeks.
Dari sisi makro, lembaga pemeringkat Moody’s mempertahankan rating Indonesia di Baa2 namun menurunkan outlook menjadi negatif, menandakan tekanan fiskal yang meningkat. Pemerintah juga mengambil langkah stabilisasi dengan menanggung 100 persen PPN tiket pesawat selama sekitar 60 hari sejak 25 April 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga energi.
Secara global, posisi pasar negara berkembang turut berubah setelah FTSE Russell menaikkan Vietnam ke kategori emerging market. Indonesia, yang masih berada di level secondary EM, menghadapi risiko tekanan tambahan dari MSCI.
Pada perdagangan sebelumnya, mayoritas bursa Eropa melemah. Euro Stoxx 50 turun 0,32 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,56 persen, DAX Jerman terkoreksi 0,19 persen, dan CAC Prancis melemah 0,19 persen. Dari Amerika Serikat, bursa bergerak variatif: Nasdaq naik tipis 0,01 persen, S&P 500 menguat 0,12 persen, sedangkan Dow Jones terkoreksi 0,13 persen.
Adapun bursa Asia pagi ini dibuka bervariasi. Indeks Nikkei melemah 0,55 persen, Hang Seng turun 0,64 persen, Shanghai terkoreksi 0,14 persen, sementara Strait Times menguat 0,42 persen.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































