IHSG berpotensi bergerak variatif pada perdagangan Rabu (25/3), seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah 22,22 poin atau 0,31 persen ke posisi 7.084,62. Sementara itu, indeks LQ45 justru naik tipis 1,20 poin atau 0,17 persen ke level 723,60.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG masih berpeluang melemah dan menguji area support di kisaran 6.800–7.000. Menurutnya, situasi global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pasar.
Dari sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan siap menghentikan sementara perang dengan Iran setelah adanya komunikasi dan upaya negosiasi terkait pembukaan Selat Hormuz. Namun, Iran membantah adanya negosiasi langsung, meski mengakui menerima pesan dari sejumlah negara terkait ajakan AS untuk berdialog.
Sebelumnya, Iran juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi milik AS maupun Israel jika serangan terhadap aset energi Iran dilakukan.
Ketegangan tersebut memicu gejolak harga minyak dan gas dunia, yang membuat bank sentral global meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kenaikan inflasi. Pada pekan lalu, The Fed, ECB, BoE, BoJ, dan Bank of Canada seluruhnya menahan suku bunga acuan. The Fed masih memproyeksikan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, namun investor mulai meragukan skenario tersebut di tengah tekanan inflasi yang meningkat.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menurunkan batas pembelian dolar AS yang mewajibkan dokumen pendukung menjadi 50 ribu dolar AS dari sebelumnya 100 ribu dolar AS. Kebijakan yang berlaku mulai 1 April 2026 tersebut diambil untuk meredam aksi spekulasi yang berpotensi memperburuk volatilitas rupiah.
Di sisi lain, BI juga meningkatkan batas transaksi hedging menjadi 10 juta dolar AS dari 5 juta dolar AS guna mendukung kebutuhan lindung nilai korporasi.
Pemerintah pun tengah mengkaji langkah efisiensi anggaran, terutama pada pos belanja kementerian/lembaga, untuk memastikan disiplin fiskal tetap terjaga di tengah kenaikan harga minyak dunia. Salah satu opsi kebijakan yang sedang dipertimbangkan adalah penerapan WFH satu hari per pekan atau skema kerja empat hari bagi ASN dan sektor swasta untuk menghemat konsumsi BBM.
“Investor sangat menantikan kebijakan yang akan diambil pemerintah,” ujar Ratna.
Dari bursa global, pasar Eropa pada Selasa (24/03) ditutup bervariasi. Euro Stoxx 50 turun 0,08 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,72 persen, DAX Jerman melemah 0,07 persen, dan CAC Prancis menguat 0,23 persen.
Sementara itu, bursa AS kompak melemah. S&P 500 turun 0,37 persen ke 6.556,37, Nasdaq terkoreksi 0,77 persen ke 22.002,45, dan Dow Jones melemah 0,18 persen ke 46.124,06.
Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, bursa Asia bergerak menguat. Indeks Nikkei melonjak 1.515,60 poin atau 2,90 persen ke 53.767,90. Shanghai Composite menguat 1,07 persen ke 3.922,80. Hang Seng naik 1,27 persen ke 25.381,72, dan Strait Times menguat 0,72 persen ke 4.897,49.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


























