Permintaan Aluminium Diproyeksikan Naik 6 Kali Lipat, Inalum Siap Dukung Transisi Energi Nasional

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memproyeksikan lonjakan permintaan aluminium hingga enam kali lipat dalam tiga dekade ke depan. Proyeksi ini sejalan dengan percepatan transisi energi global menuju energi baru dan terbarukan, termasuk pertumbuhan industri kendaraan listrik (EV).

“Dalam proyeksi kami untuk 30 tahun ke depan, kami meyakini bahwa permintaan untuk aluminium naik enam kali lipat dari hari ini,” ucap Direktur Pengembangan Bisnis Inalum Melati Sarnita dalam Indonesia Critical Minerals Conference, Jakarta, Rabu (5/06).

Melati menjelaskan bahwa tren peningkatan permintaan ini erat kaitannya dengan transformasi sektor energi dunia. Salah satu pendorong utama adalah pertumbuhan kendaraan listrik, yang secara signifikan membutuhkan aluminium sebagai komponen penting dalam sistem baterainya.

“Dan ketika berbicara tentang baterainya, 18 persen dari battery pack untuk EV sebenarnya dari aluminium. Itulah pasarnya (aluminium),” ucap Melati.

Meski aluminium memegang peran vital dalam industri kendaraan listrik, Melati menegaskan bahwa Inalum tidak akan langsung memproduksi battery pack. Sebagai perusahaan BUMN, Inalum akan tetap berfokus pada rantai midstream dengan memproduksi aluminium ingot, billet, dan alloy.

Nantinya, produk yang dihasilkan oleh Inalum akan diolah oleh perusahaan lain untuk diubah menjadi battery pack.

“Jadi, bukan Inalum yang bikin langsung penampangnya. Karena kami gak boleh main sampai ujung, gak boleh,” kata dia.

Dalam ekosistem kendaraan listrik, Inalum memainkan peran sebagai pendorong ekosistem dengan menyediakan bahan baku. Dengan demikian, Inalum tidak berkompetisi dengan industri nasional yang berperan untuk menjadi produsen battery pack.

“Kami juga gak mau berkompetisi dengan industri nasional. Kami harus jadi enabler-nya kan,” ucapnya.

Mantan Presiden Joko Widodo sebelumnya menyampaikan bahwa kebutuhan aluminium dalam negeri mencapai 1,2 juta ton per tahun. Namun, lebih dari separuh — sekitar 56 persen — masih dipenuhi melalui impor.

Sebagai langkah strategis, Jokowi mendorong Inalum untuk meningkatkan produksi domestik melalui pengoperasian smelter bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat. Smelter ini diharapkan menjadi fondasi utama dalam mendukung kemandirian aluminium nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga bersiap memulai groundbreaking megaproyek ekosistem baterai kendaraan listrik pada pekan ketiga Juni 2025. Proyek strategis ini mencakup pembangunan smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), pabrik prekursor dan katoda, serta fasilitas produksi sel baterai dan battery pack.

Total nilai investasi proyek diperkirakan mencapai 6–7 miliar dolar AS, atau lebih dari Rp97–114 triliun. Selain memperkuat industri EV nasional, proyek ini juga diproyeksikan menciptakan lebih dari 20.000 lapangan kerja.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img