Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berkembang dengan proyeksi pertumbuhan positif pada 2025. Direktur Consumer Banking Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, menyatakan bahwa strategi bisnis tahun ini akan berfokus pada dua segmen utama: wealth management dan consumer lending.
Dalam segmen kredit, Bank DBS Indonesia mengandalkan dua produk utama yang disalurkan secara organik, yaitu kartu kredit dan pinjaman pribadi (personal loan). Selain itu, bank ini juga bermitra dengan platform peer-to-peer (P2P) lending terpilih yang memiliki tata kelola yang baik untuk memperluas akses pembiayaan.
Proyeksi Kinerja 2025 Bank DBS Indonesia
Baca Juga: Bank DBS Indonesia dan Easycash Berkolaborasi Perluas Akses Kredit di Indonesia
Melfrida mengungkapkan bahwa Bank DBS Indonesia menargetkan pertumbuhan double digit pada dana pihak ketiga (DPK), wealth management, dan consumer lending.
“Kami optimistis dana pihak ketiga dan wealth management dapat tumbuh double digit, begitu juga dengan consumer lending. Ini menjadi dua pilar utama dalam pengembangan bisnis kami tahun ini,” jelasnya.
Menurutnya, wealth management mencakup layanan dana pihak ketiga, investasi, dan bancassurance, sementara consumer lending berfokus pada penyaluran kredit individu.
Di segmen wealth management, Bank DBS Indonesia melayani tiga kategori nasabah kaya, yaitu:
DBS Treasures Private Client, untuk nasabah super kaya dengan saldo minimal Rp10 miliar.
DBS Treasures, bagi nasabah dengan saldo minimal Rp500 juta.
Emerging affluent, yang dapat mulai berinvestasi dari Rp1 juta.
“Indonesia, dengan pertumbuhan GDP yang stabil, menawarkan peluang besar di sektor ini. Kami berkomitmen menghadirkan produk investasi inovatif yang dikembangkan bersama tim global financial market DBS, tentunya tetap sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan,” ungkap Melfrida.
Bank DBS Indonesia juga mengoptimalkan platform digital digibank untuk melayani tiga segmen pelanggan tersebut. Melalui digibank, nasabah dapat mengakses lebih dari 60 produk reksa dana secara real-time serta sekitar 130 seri obligasi.
“Sepanjang 2024, produk investasi yang paling diminati adalah obligasi pemerintah dan reksa dana. Kami memperkirakan tren ini masih berlanjut pada tahun ini,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News




























