Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa investor asing cenderung lebih memilih untuk menanamkan modal di Malaysia dibandingkan di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh kurangnya industri hijau di Tanah Air.
Menurut Rosan, banyak industri di Indonesia masih bergantung pada energi kotor, sedangkan investor asing kini lebih memilih berinvestasi di sektor yang menggunakan energi bersih.
“Beberapa investasi, seperti data center, awalnya tertarik untuk masuk ke Indonesia. Namun, setelah mempertimbangkan penyediaan energi, mereka lebih memilih negara lain seperti Malaysia,” ujar Rosan di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Selasa (15/10).
Rosan menekankan pentingnya pemerintah untuk fokus membangun industri hijau agar tidak kehilangan minat investasi dari luar negeri. Ia menjelaskan bahwa target investasi Indonesia pada tahun depan berada dalam rentang Rp1.868,2 triliun hingga Rp1.905,6 triliun, sehingga percepatan penyediaan energi hijau menjadi sangat krusial.
“Untuk menarik investasi dan terus berkembang, kita perlu mengakselerasi penyediaan energi hijau,” ungkapnya.
Ketika berinteraksi dengan calon investor asing, Rosan mencatat bahwa mereka menuntut ekosistem usaha yang nyaman di Indonesia, termasuk penyediaan energi bersih untuk mendukung pabrik dan manufaktur. Misalnya, perusahaan yang ingin berinvestasi dalam kendaraan listrik (EV) mengharapkan dukungan dari energi terbarukan.
Rosan juga mengingatkan bahwa presiden terpilih, Prabowo Subianto, menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Ia berpendapat bahwa target ini dapat tercapai jika kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dapat ditingkatkan. Saat ini, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53%—54% dari pertumbuhan ekonomi, sedangkan investasi berkontribusi sekitar 25%—26%.
































