Rabu, April 24, 2024
spot_img

BERITA UNGGULAN

Merger BTN Syariah dan Bank Muamalat Jadi Angin Segar Wujudkan RI Jadi Pusat Ekonomi Syariah

- Advertisement -

InfoEkonomi.ID – Aksi korporasi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) untuk merger dengan Bank Muamalat jadi angin segar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Jika prosesnya berjalan lancar, dua kekuatan besar di kancah perbankan syariah nasional resmi bersanding dalam satu pelaminan pada Oktober 2024.

Cukup beralasan mengapa Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan proses merger tersebut rampung sebelum Oktober 2024. Demikian pula mengapa BTN Syariah dipilih menjadi pengantin menemani Bank Muamalat, bank pertama yang menerapkan prinsip syariah di Tanah Air.

- Advertisement -

Pertama, dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi maupun Wapres Ma’ruf Amin sering kali menyampaikan komitmennya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah pada tahun 2024. Hal ini mengingat Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dengan jumlah 240,62 juta jiwa atau 87 persen dari total penduduknya (RISCC, 2024).

“Kita telah berkomitmen untuk menjadi pusat ekonomi syariah di tahun 2024 dan kita akan berusaha keras untuk itu,” ujar Presiden saat memberikan sambutan pada peresmian pembukaan Kongres Ekonomi Umat Ke-2 Majelis Ulama Indonesia [MUI] 2021 yang dilansir dari ANTARA.

- Advertisement -

Jika Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin bisa mulus melakukan “pendaratan” terakhirnya di Oktober 2024, maka merger dua kekuatan besar bank syariah di kancah nasional akan menjadi kado indah di pengujung kepemimpinan tersebut.

Apalagi di level global, prestasi gemilang juga diraih Indonesia. Karena predikat State of The Global Islamic Economis [SGIE] Indonesia naik ke posisi ketiga pada tahun 2023. Ini menunjukkan pengakuan dunia terhadap geliat ekonomi syariah di Tanah Air kian positif.

Kedua, dalam kerangka transformasi BUMN refocusing adalah salah satu langkah yang senantiasa dijalankan menteri BUMN Erick Thohir di sektor mana pun. Ini dilakukan agar ada perbaikan model bisnis di masing-masing perusahaan BUMN. Contoh terbaiknya, ada pada bank-bank yang terhimpun dalam kelompok Himbara [BRI, Mandiri, BNI, dan BTN]. Masing-masing memiliki fokus yang berbeda. BTN, misalnya, diberi tugas menggarap pasar properti.

Selama ini BTN memang dikenal sebagai bank yang fokus pada pembiayaan perumahan. Segmen ini menurut Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu menyumbang sekira 60-70 persen dari total pendapatan. Sisanya sektor lain sebesar 30-40 persen berasal dari bisnis turunan perumahan.

- Advertisement -

Memilih BTN Syariah sebagai pasangan untuk Bank Muamalat makin rasional jika melihat tren positif di industri halal Indonesia. Data Bank Indonesia tahun 2023 menunjukkan sektor unggulan halal value chain (HVC) mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 3,93 persen year-on-year dan ikut berkontribusi hampir 23 persen terhadap ekonomi nasional.

Penopangnya masih didominasi oleh sektor-sektor seperti pertanian, makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim (PRM), dan fesyen muslim. Tren pertumbuhannya dipastikan makin positif, apalagi ada momen puasa dan Lebaran.

Uniknya, permintaan produk halal juga muncul dari kalangan non-muslim. Ini bisa kita lihat dari munculnya tren baru pada bulan Ramadhan 2024, dimana para non-muslim ikut berburu takjil dan bergaya dengan model fesyen muslim. Ini jadi potret dari meningkatnya jumlah dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan keamanan pangan.

Pertanyaan kritisnya, apa hubungan tren positif pertumbuhan industri halal dengan sektor properti? Jawabannya karena korelasi antara kinerja pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan pertumbuhan sektor properti terlihat cukup kuat selama ini, baik sebelum maupun setelah pandemi sehingga peningkatan konsumsi rumah tangga jadi prasyarat bagi pertumbuhan sektor properti.

Jawaban ini sejalan dengan teori hirarki kebutuhan ala Maslow, yang menyebut jika kecukupan manusia pada kebutuhan paling dasarnya sudah terpenuhi, maka akan muncul motivasi pada seseorang untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya. Dalam konteks tulisan ini kebutuhan kedua tersebut adalah kebutuhan akan rasa aman dan salah satunya kepemilikan properti.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Info Hari Ini

HOT NEWS

4,488FansSuka
6,727PengikutMengikuti
2,176PelangganBerlangganan

TERPOPULER

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img