InfoEkonomi.ID – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan Presiden Jokowi senantiasa menaruh perhatian pada ketersediaan pangan bagi masyarakat. Termasuk penyaluran bantuan pangan beras agar semakin tepat sasaran.
“Ini rangkaian kegiatan sejak kemarin Bapak Presiden berkenan cek seluruh stok yang ada di beberapa tempat Bulog. Sudah dari tahun lalu, mulai dari Bogor, Jakarta, Sumatra, Sumatra itu kita susur mulai dari Padang, Palembang sampai Bandar Lampung. Kemudian ke Papua sampai ke Kupang,” urainya.
“Bapak Presiden ingin memastikan bahwa stok Bulog itu cukup dan ada di seluruh wilayah Indonesia. Lalu beliau juga ingin memastikan bahwa bantuan pangan beras ini berjalan di awal tahun seperti ini, beliau ingin memastikannya berjalan baik,” sambungnya.
Sampai 29 Desember 2023, penggelontoran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 2.761.856 ton. Dari total tersebut, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1.182.717 ton dan bantuan pangan beras tahap kedua September-Desember 848.696 ton. Lalu bantuan pangan beras tahap pertama di tahun lalu 640.590 ton, golongan anggaran 87.551 ton, dan tanggap darurat 2.302 ton.
Ia juga menjamin stok CBP untuk pelaksanaan bantuan pangan beras tahun 2024 ini senantiasa secured dan mencukupi. Penguatan stok CBP secara konstan penting dilakukan mengiringi pelaksanaan program-program penyaluran yang tengah digencarkan pemerintah.
“Beras di Bulog hari ini ada 1,4 juta ton. Ini bergerak terus, karena kita ada program-program penyaluran. Kemarin pun ada sedikit lag (keterlambatan) 2 bulan produksi karena dampak iklim El Nino,” ungkap Arief.
“Kami bersama Bulog selalu memastikan stok CBP secured dan cukup, terutama untuk pelaksanaan bantuan pangan beras tahun 2024 ini. Satu tahapan selama tiga bulan itu membutuhkan beras sekitar 660 ribu kg,” sebut Arief.
“Jaminan ketersediaan stok pangan juga kita persiapkan menjelang Pemilu Februari dan Idulfitri April di tahun ini. Bantuan pangan seperti ini akan terus digelontorkan pemerintah sebagai bantalan ekonomi dan pengungkit daya beli masyarakat,” pungkasnya.
Selain sebagai bantalan ekonomi, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menerangkan adanya andil program bantuan pangan beras terhadap pergerakan inflasi nasional, terutama inflasi beras. Ia mengatakan penggelontoran bantuan pangan beras juga dapat menekan harga pasar dan mengendalikan inflasi beras itu sendiri.
“Pada 2023 lalu, kita mulai luncurkan bantuan pangan beras tahap pertama sampai Juli. Pergerakan inflasi beras cukup terkendali dan bahkan di Juli deflasi 0,02 persen. Namun Agustus dan September inflasi beras mulai naik. September itu inflasi beras mencapai 5,61 persen,” terang Arief.
“Tingginya inflasi beras di September disebabkan berkurangnya pasokan dan penurunan produksi akibat dampak El Nino. Sesuai arahan Bapak Presiden, kita sikapi dengan pengguliran kembali bantuan pangan beras. Ini kemudian terbukti dapat terus mengendalikan inflasi beras secara bulanan,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi beras secara bulanan. Pada 2023, inflasi beras di September 2023 yang berada di 5,61 persen merupakan yang tertinggi sejak Februari 2018 yang kala itu berada di 6,25 persen.
Selanjutnya bantuan pangan beras tahap kedua di tahun 2023 dikucurkan mulai September 2023. Inflasi beras secara bulanan kemudian mengalami pelemahan. Di Oktober 2023 tercatat 1,72 persen, November 2023 berada di 0,43 persen, dan terakhir Desember 2023 cukup terjaga di angka 0,48 persen. Secara tahunan, inflasi beras di Desember 2023 pun lebih rendah dibandingkan Desember 2022 yang tercatat di 2,30 persen.
Menilik data dari Panel Harga Pangan Bapanas, pada 1 Oktober 2023 tercatat harga rata-rata beras medium di semua provinsi berada di Rp 13.220 per kg. Setelah penggelontoran CBP selama 4 bulan, terdapat depresiasi 30 poin sampai per 31 Desember 2023 menjadi Rp 13.190 per kg. Ini menandakan selama ada program intervensi pemerintah, harga beras medium dapat ditekan menjadi flat dan tidak terlampau meninggi.
Di acara serupa, Dirut Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan pihaknya berkomitmen menyerap produksi dalam negeri di tahun ini. Ia juga mengungkapkan Bulog juga berfokus pada penyiapan stok untuk bantuan pangan beras tahun 2024 sampai Juni mendatang.
“Tadi Bapak Menteri Pertanian mengatakan mulai akhir Maret dan April, itu sudah mulai panen. Jadi Bulog akan menyerap dari dalam negeri. Kami di Bulog sudah diperintahkan untuk menyiapkan menyalurkan (bantuan pangan beras) dalam 6 bulan. Jadi apapun nanti keputusan Bapak Presiden, barangnya sudah ada, stoknya ada, dan (kita) bisa dilakukan itu,” beber Bayu.



























