Bank Negara Indonesia (BNI) menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi peningkatan volatilitas ekonomi domestik maupun global sepanjang 2026.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa perseroan terus memantau dinamika makroekonomi, termasuk dampak tensi geopolitik dan tekanan pasar keuangan terhadap industri perbankan nasional.
“Kami terus memonitor perkembangan ekonomi domestik maupun global secara ketat,” ujar Putrama dalam analyst meeting di pekan lalu.
Untuk menjaga stabilitas kinerja, BNI mengarahkan fokus strategis pada penguatan dana murah (CASA), diversifikasi portofolio kredit, serta menjaga permodalan dan likuiditas tetap solid.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah menjaga buffer likuiditas dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) di bawah 90%. Hingga Maret 2026, LDR BNI tercatat sebesar 83,46%, lebih longgar dibandingkan 93,15% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, BNI menerapkan penyaluran kredit yang lebih selektif dan prudent guna mengurangi risiko konsentrasi pada sektor tertentu. Perseroan juga memperkuat pencadangan untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya kredit (provisioning charges).
Di tengah ketidakpastian pasar, BNI turut melakukan strategi lindung nilai (hedging) terhadap portofolio aset yang rentan terhadap gejolak ekonomi global.
Putrama menyebut, sejak awal tahun BNI telah menggunakan asumsi bisnis yang konservatif, sehingga hingga saat ini belum ada perubahan target kinerja.
Namun demikian, tekanan tetap diantisipasi, terutama pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang diperkirakan terbatas akibat tren suku bunga tinggi dan kompetisi kredit yang ketat.
Dari sisi risiko, BNI juga telah melakukan stress test dengan skenario ekstrem, seperti harga minyak mencapai US$150 per barel, nilai tukar rupiah melemah di atas Rp20.000 per dolar AS, hingga yield obligasi pemerintah 10 tahun menyentuh 9%.
Dalam skenario tersebut, rasio kredit bermasalah (NPL) diproyeksikan meningkat sekitar 1,6%, sementara biaya kredit berpotensi naik hingga 1,1%. NIM juga diperkirakan tertekan ke kisaran 3%.
Meski demikian, BNI optimistis fundamental perusahaan tetap kuat.
“Permodalan kami diproyeksikan tetap berada di atas ketentuan minimum regulator dan likuiditas masih cukup kuat untuk menjalankan operasional bank,” tutup Putrama.
Langkah antisipatif ini menegaskan kesiapan BNI dalam menjaga stabilitas kinerja sekaligus menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































