Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img

IHSG Bergerak Mendatar, Pasar Tunggu Kepastian Kesepakatan Dagang Indonesia–AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak mendatar pada perdagangan Selasa di tengah pelaku pasar yang mencermati perkembangan kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). IHSG dibuka menguat tipis 10,81 poin atau 0,13 persen ke level 8.656,65, sementara indeks LQ45 justru terkoreksi 1,13 poin atau 0,13 persen ke posisi 858,59.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan bahwa isu mengenai kesepakatan perdagangan RI–AS menjadi sorotan penting pasar, terutama setelah muncul kabar potensi penghentian perjanjian yang dijadwalkan berakhir pada Juli 2025.

- Advertisement -

“Isu ini (kesepakatan RI-AS) menjadi penting di tengah kabar potensi penghentian kesepakatan yang ditandatangani Juli 2025,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (23/12).

Fokus investor pada hari ini tertuju pada konferensi pers mengenai perkembangan kesepakatan dagang Indonesia–AS yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Airlangga baru saja melakukan kunjungan kerja ke AS dan memberikan pemaparan mengenai dampak perjanjian tersebut terhadap prospek tarif ekspor, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi nasional.

- Advertisement -

Sementara itu, nilai tukar rupiah berada pada posisi terlemah dalam hampir delapan bulan terakhir. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kewaspadaan pelaku pasar menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS serta ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak lebih lemah pada 2026 dibandingkan tahun 2025 akibat dinamika global dan potensi kembalinya arus modal ke AS.

Dari mancanegara, investor menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting seperti PDB AS, data kepercayaan konsumen, serta klaim pengangguran. Data final PDB AS kuartal III-2025 diperkirakan melambat ke 3,2 persen. Meski melemah, perlambatan ini dipandang positif karena mendukung skenario soft landing, di mana ekonomi AS tetap tumbuh namun tidak memicu inflasi tinggi, sehingga membuka peluang bagi The Fed melanjutkan penurunan suku bunga acuan.

Di kawasan Asia, bank sentral China (PBoC) kembali mempertahankan suku bunga acuan Loan Prime Rate (LPR). Kebijakan ini menunjukkan bahwa PBoC masih menahan stimulus tambahan meskipun data ekonomi terbaru memperlihatkan perlambatan konsumsi, produksi, dan melemahnya permintaan kredit akibat krisis properti berkepanjangan.

Dari bursa global, saham-saham Eropa kompak melemah pada perdagangan Senin (22/12). Euro Stoxx 50 turun 0,32 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,32 persen, DAX Jerman turun tipis 0,02 persen, dan CAC Prancis melemah 0,37 persen. Sebaliknya, bursa Wall Street justru ditutup menguat, di mana Dow Jones naik 0,47 persen, S&P 500 menguat 0,64 persen, dan Nasdaq Composite naik 0,52 persen.

- Advertisement -

Adapun bursa saham Asia pada Selasa pagi bergerak positif. Indeks Nikkei menguat 109,61 poin atau 0,21 persen ke 50.478,00. Shanghai Composite naik 12,57 poin atau 0,30 persen, Hang Seng menguat 101,73 poin atau 0,47 persen, dan Strait Times meningkat 7,86 poin atau 0,18 persen.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img